Wednesday, October 28, 2009

dia berjalan, mengambil sampah lagi. dan selalu dilihat oleh orang saat dia membungkuk mengambil sampah di tepi jalan raya itu. ia bingung, mau lari, tapi takut dikejar. segala gerakgeriknya terlihat mencurigakan disini. terpikir kalau ia terbalik memasang baju, atau label harga masih terpampang dengan indah di bajunya. tapi, nihil. ia tak tau apa yang membuat semua orang menatapnya sinis dan heran melihat tingkah lakunya. ia bersikap tak peduli dan mengambil 1 buah sampah lagi. saat tangannya hampir menyentuh samapah botol itu, bapak-bapak berbaju dinas berwarna coklat tanah dan memamakai peci buluk dengan sendal swallow kuning itu berteriak padanya. kontan, ia (si pemungut sampah, bukan bapak-bapak berbaju) kaget, dengan muka dipaksa untuk tenang, ia menoleh dan menatap tajam mata bapak tersebut.

'apa yang sedang kau lakukan, nak? penampilan mu necis. terlihat seperti orang terkemuka yang pasti berada. tak pantas sepertinya orang sepertimu memungut sampah jalan yang ada di daerah ini, sedangkan orang-orang disini bahkan tak peduli dan malah menambah sampah lagi. ada apa gerangan? apa kau dibayar untuk masuk acara reality show termehek-mekhek? kebetulan, saya suka sekali Reality Show itu.", ucap bapak tadi dengan wajah heran menginginkan sebuah jawaban yang pasti.

'saya tidak masuk acara mana-mana pak. saya hanya ingin setiap jalan yang saya lalui membuat sebuah kebaikan baru untuk orang yang ingin melewatinya lagi. bila saya biarkan sampah ini dan jalan saja, apa yang bisa saya lakukan lagi untuk memberikan kebaikan kepada orang yang saya bahkan tidak kenal. sungguh pak, mungkin ini bisa membuat orang sekeliling saya berfikir seperti ini. melakukan hal sederhana yang pastinya membuahkan kebaikan besar yang sangat dibutuhkan orang banyak."

si bapak bingung dan kaget. ia tak menyangka orang kaya bisa berbicara seperti itu. yang biasa ia lihat, mereka bahkan hanya bisa menambah banyak sampah disini saja. berjalan melenggok angkuh, tak peduli.

sudahkan kita seperti bapak kaya pemungut sampah, kawan?

Wednesday, October 21, 2009

dimana ada anak yang tidak terlalu pintar membawa barang mahal yang sebenarnya mukanya tidak bertampang seperti itu. dia mencoba memakai barang itu, tapi malah ditatap sinis, entah kenapa. tujuannya jelas. yang mau dia hadapi juga jelas. mungkin karena ketidaksukaan hati dan keterpaksaan untuk melihat lebih jauh apa yang sebenarnya ingin dilakukan. apakah seorang anak yang biasa-biasa saja harus melakukan hal yang biasa?

infact, did everbody is ordinary?
or they can be extraordinary, if someone look at they with his/her eyes?
not with his/her EYE?

plis deh ah, ga smua orang harus pinter eksak. walopun eksak hal yang begitu penting. karena hukum negara yang mengatakan secara tidak langsung kalau, EKSAK adalah segala-galanya. hello there, dunia ga selebar daun kolor kali. semua punya potensial beda. tapi, jangan pada ngira posting ini ngatain eksak kaga' penting. bego itu namanya.
maksudnya.
potensi yang kita punya banyak. bukan cuma eksak.
jangan terpaku pada satu hal yang baku. kalo emang kita engga nguasain hal itu.
berusaha semaksimal mungkin, tapi jangan maksain banget harus jadi si pinter.
seengganya nilenya ga jeblok.

akhirnya, anak biasa itu menanggapi dengan senyum. tanpa beban hati. toh, mereka tidak tahu dan akan dibuatnya tau.

;;

By :
Free Blog Templates